TV DIGITAL DAN TV ANALOG
1. Pengertian TV Digital
dan TV Analog
- TV Digital
Televisi
digital (bahasa Inggris: Digital Television, DTV)atau penyiaran digital
adalah jenis televisi yang menggunakan modulasi digital dan sistem kompresi
untuk menyiarkan sinyal video, audio dan data ke pesawat televisi. TV Digital
bukan berarti pesawat televisinya yang digital, namun lebih kepada sinyal yang
dikirimkan adalah sinyal digital atau mungkin yang lebih tepat adalah siaran
digital (Digital Broadcasting). Televisi resolusi tinggi atau high-definition
television (HDTV), yaitu: standar televisi digital internasional yang disiarkan
dalam format 16:9 (TV biasa 4:3) dan surround-sound 5.1 Dolby Digital. TV
digital memiliki resolusi yang jauh lebih tinggi dari standar
lama. Penonton melihat gambar berkontur jelas, dengan warna-warna matang,
dan depth-of-field yang lebih luas daripada biasanya. HDTV memiliki jumlah
pixel hingga 5 kali standar analog PAL yang digunakan di
- TV Analog
Televisi analog
mengkodekan informasi gambar dengan memvariasikan voltase dan/atau frekuensi
dari sinyal. Seluruh
sistem sebelum Televisi
digital dapat dimasukan ke analog.Sistem yang dipergunakan
dalam televisi analog NTSC (national Television System Committee), PAL, dan
SECAM.
Kelebihan signal
digital dibanding analog adalah ketahanannya terhadap gangguan
(noise) dan kemudahannya untuk diperbaiki (recovery) di penerima dengan kode
koreksi error (error correction code ).
2. Perbedaan TV Digital
dengan TV Analog.
Di Indonesia agar segera
diluncurkan karena Pemerintah juga berpendapat bahwa teknologi televisi digital
lebih efisien dalam penggunaan kanal frekuensi dibandingkan teknologi analog
yang selama ini dipergunakan. Berdasarkan master plan televisi yang
tengah disusun, pemerintah akan mengalokasikan 14 kanal frekuensi. 10 kanal
frekuensi kini telah dialokasikan bagi televisi swasta yang telah beroperasi.
Satu kanal untuk TVRI, satu kanal untuk televisi lokal, dan dua kanal untuk
televisi digital. Walaupun televisi digital harus banyak melakukan adaptasi
terhadap jangkauan yang telah dapat dicapai oleh televisi analog. Penerapan
siaran TV digital sebagai pengganti TV analog pada pita UHF dilakukan secara
bertahap sampai suatu batas waktu cut-off TV analog UHF yang
ditetapkan (2015 di kota besar dan 2020 secara nasional).
Wilayah layanan TV digital
penerimaan tetap free-to-air DVB-T sama dengan wilayah layanan TV
analog UHF sesuai Keputusan Menteri Perhubungan No. 76 Tahun 2003. Alokasi
kanal frekuensi untuk layanan TV digital penerimaan
tetap free-to-air DVB-T di Indonesia adalah pada band IV dan V UHF,
yaitu kanal 28 – 45 (total 18 kanal) dengan lebar pita masing – masing kanal
adalah 8 MHz. Namun, setiap wilayah layanan diberikan jatah hanya 6 kanal,
karena 12 kanal lain digunakan di wilayah – wilayah layanan sekitarnya
(pola reuse 3 grup kanal frekuensi). TV digital, katanya, memang
menuntut keterlibatan banyak pihak, di antaranya perusahaan seluler, sedangkan
pemerintah berfungsi untuk melindungi produk TV digital dan sebagai regulator.
Untuk menyusun strategi
migrasi ke teknologi digital, pemerintah diusulkan membentuk Komisi Nasional
Televisi yang beranggotakan departemen dan kalangan lembaga penyiaran. Pada
2004 diharapkan Komisi ini sudah terbentuk, sehingga sosialisasi dan uji coba
televisi digital dapat dilakukan.
·
Perbedaan mendasar antara
TV Digital dengan TV Analog
Perbedaan yang paling
mendasar antara sistem penyiaran televisi analog dan digital terletak pada
penerimaan gambar lewat pemancar. Pada sistem analog, semakin jauh dari stasiun
pemancar televisi, sinyal akan melemah dan penerimaan gambar menjadi buruk dan
berbayang. Sedangkan pada sistem digital, siaran gambar yang jernih akan dapat
dinikmati sampai pada titik dimana sinyal tidak dapat diterima lagi.
Perbedaan
TV Digital dan TV Analog hanyalah perbedaan pada sistim tranmisi pancarannya,
kebanyakan TV di Indonesia, masih menggunakan sistim analog dengan cara
memodulasikannya langsung pada Frekwensi Carrier, Sedangkan pada Pada sistim
digital, data gambar atau suara dikodekan dalam mode digital (diskret) baru di
pancarkan.
Orang awam pun dapat
membedakan dengan mudah, jika TV analog signalnya lemah (semisal problem pada
antena) maka gambar yang diterima akan banyak ‘semut’ tetapi jika TV Digital
yang terjadi adalah bukan ‘semut’ melainkan gambar yang lengket seperti kalau
kita menonton VCD yang rusak. Kualitas Digital jadi lebih bagus, karena dengan
Format digital banyak hal dipermudah.
Siaran TV Satelit Dulu
memakai Analog. Sekarang sudah banyak yang digital. Tidak semua TV satelit
memakai sistim Digital. Di beberapa satelit Arab banyak yang memakai mode
analog. Sebenarnya untuk menerima siaran digital untuk TV yang analog tidaklah
terlalu mahal. Receiver ini hanya tinggal pasang antena dan kemudian AV nya
colokkan ke TV. Untuk siaran TV satelit namanya DVB-S (Digital Video
Broadcasting – Satelite). Sedangkan untuk di daratan namanya DVB-T(Digital
Video Broadcasting – Terresterial)
Jika anda melihat Indosiar atau Metro TV atau RCTI melalui satelit anda bisa melihat siaran TV Digital. Tidak Harus plasma, Tidak harus HD, karena stasiun TV Nasional masih memakai SDTV meskipun mereka memancarkan secara digital lewat satelit Dengan memakai TV 14 inchi yang paling murahpun anda bisa menonton TV digital. Sedangkan jika anda membeli TV LCD, hampir semua bisa menerima signal Digital tanpa alat tambahan karena sudah dilengkapi dengan receiver digital.
Jika anda melihat Indosiar atau Metro TV atau RCTI melalui satelit anda bisa melihat siaran TV Digital. Tidak Harus plasma, Tidak harus HD, karena stasiun TV Nasional masih memakai SDTV meskipun mereka memancarkan secara digital lewat satelit Dengan memakai TV 14 inchi yang paling murahpun anda bisa menonton TV digital. Sedangkan jika anda membeli TV LCD, hampir semua bisa menerima signal Digital tanpa alat tambahan karena sudah dilengkapi dengan receiver digital.
3. Dampak yang timbul
akibat adanya system siaran digital di Indonesia.
Saat ini populasi pesawat
televisi tidak kurang dari 40 juta unit, dengan pemirsa lebih dari 200 juta
orang, jauh lebih banyak dibandingkan dengan komputer, misalnya, yang hanya
sekitar 5,9 juta unit. Terlihat bahwa penggemar televisi begitu banyak di
Indonesia .
Televisi adalah alat
penangkap siaran bergambar. Kata televisi berasal dari kata tele (jauh) dan
vision (tampak) jadi televisi memiliki arti dapat melihat dari jarak
jauh. Penemuan televisi ini mampu mengubah peradaban dunia. Semua gambar
televisi dibentuk oleh titik tunggal cahaya yang bergerak bolak-balik,
depan-belakang atau atas-bawah, secara cepat pada layar televisi yang tak
tampak oleh mata, sehingga yang terlihat hanyalah rangkaian gambar. Pada tahun
1884 Paul Nipkow mencetuskan ide tentang pemindaian gambar dengan cara
memecahkanya ke dalam rangkaian titik cahaya yang bergerak secara linear
menyeberangi sudut pandangan. Sinyal televisi bekerja seperti radio AM,
terkecuali dalam penghubung pembawa frekuensi tinggi. Pada radio dari suara
besar ke lembut sedangkan televisi dari terang ke gelap. Perangkat televisi
disinkronisasikan dengan transmiter untuk menghasilkan pola yang tepat dari
sebuah piksel yang akan ditempatkan pada layar. Televisi ditransmisikan dengan
dua pita frekuensi, VHF (very high frequency) dan UHF (ultra high frequency),
dan setiap saluran memiliki lebar pita keseluruhan mencapai 6 MHz. Jaringan
televisi pertama menggunakan kabel coaxial dan teknologi gelombang
mikro. Pada tahun 1970-an satelit menjadi standar dalam menghubungkan kabel dan
jaringan penyiaran kepada afiliasi mereka dan untuk mentransmisikan berita
lokal dan pergelaran olahraga ke kantor berita pusat. Saat ini, jaringan serat
optik juga ikut digunakan.
Kemunculan televisi
digital di indonesia harus dipikirkan dampak dan konsekuensinya karena selama
ini masih banyak masyarakat yang menggunakan dan terbiasa dengan televisi
telivisi analog. Sedikit ketidaknyamanan yang mau tidak mau harus diterima
dengan peralihan ke TV digital ini adalah:
Perlunya pesawat TV baru
atau paling tidak kita perlu membeli TV Tuner baru yang harganya bisa
dibilang cukup mahal. Hal tersebut akan menimbulkan dampak yang besar,
mengingat hampir seluruh komponen pertelevisian di Indonesia masih menggunakan
komponen analog, sehingga kemajuan tekhnologi televisi digital ini dapat
mematikan usaha-usaha kecil yang selama ini telah ada. Karenanya hal ini
mewajibkan Pemerintah untuk mensosialisasikan lebih rinci kepada masyarakat.
Mahalnya perangkat
transmisi dan operasional broadcast berbasis tehnologi digital merupakan
persoalan tersendiri bagi kemampuan industri televisi di
Indonesia. Bagaimanapun untuk bisa menyiarkan program secara digital,
perangkat pemancar memang harus diganti dengan perangkat baru yang memiliki
sistem modulasi frekuensi secara digital. Untuk mem-back up operasional
sehari-hari saja dengan tingkat persaingan antar sesama radio dan televisi
swasta nasional saja sudah sangat berat, apalagi untuk harus mengalokasikan
sekian persen pemasukan iklan untuk digunakan bagi digitalisasi. Selain itu,
dalam masa transisi, stasiun televisi harus siaran multicast atau operasional
di dua saluran secara paralel: analog dan digital, karena tetap memberi
kesempatan pada masyarakat yang belum dapat membeli televisi digital.
Sistem pemrosesan
sinyalnya. Pada sistem digital, karena diperlukan tambahan proses
misalnya Fast Fourier Transform (FFT),Viterbi
decoding danequalization di penerima, maka TV Digital ini akan
sedikit terlambat beberapa detik dibandingkan TV Analog. Ketika TV analog
sudah menampilkan gambar baru, maka TV Digital masih beberapa detik menampilkan
gambar sebelumnya.
Bagaimana soal akses pada
jaringan media serta kondisi sistem akses itu sendiri. Persoalan seperti
pengaturan decoder TV digital maupun content media menjadi layak kaji
dalam hal ini. Dan akses pada spektrum frekuensi
Bagaimanapun pada era
penyiaran digital telah terjadi konvergensi antarteknologi penyiaran
(broadcasting), teknologi komunikasi (telepon), dan teknologi internet (IT).
Dalam era penyiaran digital, ketiga teknologi tersebut sudah menyatu dalam satu
media transmisi. Dengan demikian akses masyarakat untuk memperoleh ataupun
menyampaikan informasi menjadi semakin mudah dan terbuka
Terjadinya migrasi dari
era penyiaran analog menuju era penyiaran digital, yang memiliki konsekuensi
tersedianya saluran siaran yang lebih banyak, akan membuka peluang lebih luas
bagi para pelaku penyiaran dalam menjalankan fungsinya dan dapat memberikan
peluang lebih banyak bagi masyarakat luas untuk terlibat dalam industri
penyiaran ini.
Momentum penyiaran digital
dapat membuka peluang yang lebih banyak bagi masyarakat dalam meningkatkan
kemampuan ekonominya. Peluang usaha di bidang rumah produksi, pembuatan
aplikasi-aplikasi audio, video dan multimedia, industri senetron, film,
hiburan, komedi dan sejenisnya menjadi potensi baru untuk menghidupkan ekonomi
masyarakat.
Televisi di Indonesia
telah menjadi alat penting baik untuk hiburan maupun untuk mendapatkan
informasi. Baik televisi digital maupun analog dalam penyiarannya memiliki
kesamaan yaitu memiliki dampak psikologis terhadap penontonnya. Dengan
frekuensi menonton yang tinggi dan kualitas tontonan yang rendah akan berdampak
buruk baik pada orang dewasa maupun pada pada anak – anak.
Sistem penyiaran TV
Digital penggunaan apliksi teknologi digital pada sistem penyiaran TV yang
dikembangkan di pertengahan tahun 90an dan diujicobakan pada tahun 2000. Pada
awal pengoperasian sistem digital ini umumnya dilakukan siaran TV secara
bersama dengan siaran analog sebagai masa transisi. Sekaligus ujicoba sistem tersebut
sampai mendapatkan hasil penerapan siaran TV Digital yang paling ekonomis
sesuai dengan kebutuhan dari negara yang mengoperasikan.
Dampak
Penyiaran TV Digital
A.
Dampak Positif
Banyak manfaat yang dapat diperoleh masyarakat dengan beralih ke penyiaran TV digital antara lain:
Banyak manfaat yang dapat diperoleh masyarakat dengan beralih ke penyiaran TV digital antara lain:
ü Kualitas gambar yang lebih
halus dan tajam,
ü Pengurangan terhadap efek
noise,
ü Kemudahan untuk recovery
pada penerima dengan error correction code, serta
ü mengurangi efek dopler
jika menerima siaran tv dalam kondisi bergerak (misalnya di mobil, bus, maupun
kereta api).
ü Selain itu sinyal digital
dapat menampung program siaran dalam satu paket, dikarenakan pemakaian
bandwidth pada tv digital tidak sebesar tv analog.
B.
Dampak Negatif
Disamping banyak hal yang bermanfaat, tentunya kendala yang akan dihadapi dalam migrasi ke siaran TV digital pun juga semakin banyak seperti:
Disamping banyak hal yang bermanfaat, tentunya kendala yang akan dihadapi dalam migrasi ke siaran TV digital pun juga semakin banyak seperti:
ü Regulasi bidang penyiaran
yang harus diperbaiki,
ü Standardisasi yang harus
segera ditentukan baik untuk perangkat dan teknologi yang akan digunakan,
ü Industri pendukung yang harus
segera disiapkan baik perangkat maupun kontennya.
ü Jika kanal TV digital ini
diberikan secara sembarangan kepada pendatang baru, selain penyelenggara TV
siaran digital terrestrial harus membangun sendiri infrastruktur dari nol, maka
kesempatan bagi penyelenggara TV analog eksisting seperti TVRI, 5 TV swasta
eksisting dan 5 penyelenggara TV baru untuk berubah menjadi TV digital di
kemudian hari akan tertutup karena kanal frekuensinya sudah habis.
4. Bagaimana Pendapat
tentang Prospek masa depan penyiaran televisi dikaitkan dengan adanya
digitalisasi system siaran televisi
Dengan adanya kemajuan
dalam teknologi di Indonesia, sudah seharusnya kita merasa bangga. Karena tidak
ada lagi kata ketertinggalan dalam segi teknologi. Namun transisi dari
perpindahan TV Analog ke TV Digital tidak mudah, banyaknya tanggapan dari
masyarakat atau pengguna yang berbeda-beda.
Transisi dari pesawat
televisi analog menjadi pesawat televisi digital membutuhkan penggantian perangkat
pemancar televisi dan penerima siaran televisi. Agar dapat menerima penyiaran
digital, diperlukan pesawat TV digital. Namun, jika ingin tetap menggunakan
pesawat televisi analog, penyiaran digital dapat ditangkap dengan alat tambahan
yang disebut kotak
konverter (Set Top Box).
Ketika menggunakan pesawat televisi analog, sinyal penyiaran digital akan
dirubah oleh kotak konverter menjadi sinyal analog. Dengan demikian pengguna
pesawat televisi analog tetap dapat menikmati siaran televisi digital. Pengguna
televisi analog tetap dapat menggunakan siaran analog dan secara perlahan-lahan
beralih ke teknologi siaran digital tanpa terputus layanan siaran yang
digunakan selama ini.
Proses transisi yang
berjalan secara perlahan dapat meminimalkan risiko kerugian terutama yang
dihadapi oleh operator televisi dan masyarakat. Resiko tersebut antara lain
berupa informasi mengenai program siaran dan perangkat tambahan yang harus
dipasang tersebut. Sebelum masyarakat mampu mengganti televisi analognya
menjadi televisi digital, masyarakat menerima siaran analog dari pemancar televisi
yang menyiarkan siaran televisi digital.
Bagi operator televisi,
risiko kerugian berasal dari biaya membangun infrastruktur televisi
digital terestrial yang relatif jauh lebih mahal dibandingkan dengan membangun
infrastruktur televisi analog. Operator televisi dapat memanfaatkan
infrastruktur penyiaran yang telah dibangunnya selama ini seperti studio, bangunan, sumber
daya manusia, dan lain sebagainya apabila operator televisi dapat menerapkan
pola kerja dengan calon penyelenggara TV digital. Penerapan pola kerja dengan
calon penyelenggara digital pada akhirnya menyebabkan operator televisi tidak
dihadapkan pada risiko yang berlebihan. Di kemudian hari, penyelenggara
penyiaran televisi digital dapat dibedakan ke dalam dua posisi yaitu menjadi
penyedia jaringan,
serta penyedia isi.
·
Kelebihan TV Digital
Televisi digital sudah
bukan barang baru untuk saat ini. Walaupun begitu televisi digital bukan
berarti pesawat TV-nya yang Digital, melainkan lebih kepada sinyal yang
dikirimkan adalah signal digital atau mungkin yang lebih tepat adalah siaran
digital (Digital Broadcasting). Kelebihan signal digital dibanding
analog adalah ketahanannya terhadapnoise dan kemudahannya
untuk diperbaiki (recovery) di penerima dengan kode koreksi error (error
correction code).
Keuntungan transmisi
digital lainnya adalah less bandwidth (atau high efficiency
bandwidth) karena interference digital channel lebih rendah, sehingga
beberapa channel bisa dikemas atau “dipadatkan” dan dihemat. Hal ini menjadi
sangat mungkin karenabroadcasting TV Digital menggunakan sistem OFDM
(Orthogonal Frequency Division Multiplexing) yang tangguh dalam mengatasi efek
lintas jamak (multipath fading). Kemudian keuntungan lainnya adalah bahwa
sinyal digital bisa dioperasikan dengan daya yang rendah (less power). Itulah
beberapa hal yang sangat mengutungkan dalam TV digital. Keuntungan tersebut
menghasilkan kualitas gambar dan warna yang sangat jauh lebih bagus daripada TV
analog.
(httpwww.beritaiptek.comzberita-beritaiptek-2006-01-11-Menyongsong-Era-TV-Digital.shtml.htm).
TV Digital memiliki hasil
siaran dengan kualitas gambar dan warna yang jauh lebih baik dari yang
dihasilkan televisi analog. Sistem televisi digital menghasilkan pengiriman
gambar yang jernih dan stabil meski alat penerima siaran berada dalam kondisi
bergerak dengan kecepatan tinggi. TV Digital memiliki kualitas siaran
berakurasi dan resolusi tinggi.Teknologi digital
memerlukan kanal siaran
dengan laju sangat tinggi mencapai Mbps untuk pengiriman informasi berkualitas
tinggi.
·
Frekuensi TV Digital
Secara teknis, pita
spektrum frekuensi radio yang digunakan
untuk televisi analog dapat digunakan untuk penyiaran televisi digital.
Perbandingan lebar pita frekuensi
yang digunakan teknologi analog dengan teknologi digital adalah 1 : 6.
Jadi, bila teknologi analog memerlukan lebar pita 8 MHz untuk satu kanal
transmisi, teknologi digital dengan lebar pita yang sama (menggunakan teknik
multipleks) dapat memancarkan sebanyak 6 hingga 8 kanal transmisi sekaligus
untuk program yang berbeda.
TV digital ditunjang oleh
teknologi penerima yang mampu beradaptasi sesuai dengan lingkungannya. Sinyal
digital dapat ditangkap oleh sejumlah pemancar yang membentuk jaringan
berfrekuensi sama sehingga daerah cakupan TV digital dapat diperluas. TV
digital memiliki peralatan suara dan gambar berformat digital seperti yang
digunakan kameravideo.
Siaran menggunakan sistem
digital memiliki ketahanan terhadap gangguan dan mudah untuk diperbaiki kode
digitalnya melalui kode koreksi
error. Akibatnya adalah kualitas gambar dan suara yang jauh lebih akurat dan
beresolusi tinggi dibandingkan siaran televisi analog. Selain itu siaran
televisi digital dapat menggunakan daya yang rendah.
Transmisi pada TV Digital
menggunakan lebar pita yang
lebih efisien sehingga saluran dapat dipadatkan. Sistem penyiaran TV Digital
menggunakan OFDM yang
bersifat kuat dalam lalu lintas yang padat. Transisi dari teknologi analog
menuju teknologi digital memiliki konsekuensi berupa tersedianya saluran siaran
televisi yang lebih banyak. Siaran berteknologi digital yang tidak memungkinkan
adanya keterbatasan frekuensi menghasilkan saluran-saluran televisi baru.
Penyelenggara televisi digital berperan sebagai operator penyelenggara jaringan televisi
digital sementara program siaran disediakan oleh operator lain. Bentuk
penyelenggaraan sistem penyiaran televisi digital mengalami perubahan dari segi
pemanfaatan kanal ataupun
teknologi jasa pelayanannya. Terjadi efisiensi penggunaan kanal frekuensi
berupa pemakaian satu kanal frekuensiuntuk 4 hingga
6 program.
Siaran televisi digital
terestrial dapat diterima oleh sistem penerimaan televisi analog dan sistem
penerimaan televisi bergerak. TV Digital memiliki fungsi interaktif dimana
pengguna dapat menggunakannya seperti internet. Sistem siaran televisi digital
DVB mempunyai kemampuan untuk memanfaatkan jalur kembali antara IRD dan
operator melalui modul Sistem Manajemen Subscriber. Jalur tersebut
memerlukan modem,jaringan telepon atau jalur
kembali televisi
kabel, maupun satelit untuk
mengirimkan sinyal balik kepada pengguna seperti pada aplikasi penghitungan
suara melalui televisi. Ada beberapa spesifikasi yang telah dikembangkan,
antara lain melalui jaringan telepon tetap (PSTN) dan jaringan
berlayanan digital terintegrasi (ISDN).
Selain itu juga dikembangkan solusi komprehensif untuk interaksi melalui
jaringan CATV, HFC,
sistem terestrial, SMATV,LDMS, VSAT, DECT,
dan GSM.
Manfaat
penyiaran TV Digital
TV Digital digunakan untuk
siaran interaktif. Masyarakat dapat membandingkan keunggulan kualitas siaran
digital dengan siaran analog serta dapat berinteraksi dengan TV Digital.
Teknologi siaran digital
menawarkan integrasi dengan layanan interaktif dimana TV Digital memiliki
layanan komunikasi dua
arah layaknya internet.
Siaran televisi digital
terestrial dapat diterima oleh sistem penerimaan televisi tidak bergerak maupun
sistem penerimaan televisi bergerak. Kebutuhan daya pancar televisi digital
yang lebih kecil menyebabkan siaran dapat diterima dengan baik meski alat
penerima siaran bergerak dalam kecepatan tinggi seperti di dalam mobil dan
kereta.
TV Digital memungkinkan
penyiaran saluran dan layanan yang lebih banyak daripada televisi analog.
Penyelenggara siaran dapat menyiarkan program mereka secara digital dan memberi
kesempatan terhadap peluang bisnis pertelevisian
dengan konten yang lebih kreatif, menarik, dan bervariasi.
Antenna televisi biasanya memiliki sepasang
batang batang metal yang terbuat dari alumunium. Kualitas sebuah antena TV
tergantung pada seberapa bagusnya metal itu di anodize. Ketika metal tersebut
oxidasi dan berkarat maka kemampuan menerima signalpun akan hilang. Antena
outdoor atau yang dipasang pada luar rumah lebih dapat berkarat dibandingkan
dengan antena yang dipasang di dalam rumah (indoor) walaupun antena outdoor
lebih bagus dalam menerima signal. Faktor utama yang menentukan seberapa
bagusnya sebuah antena dalam menerima signal yaitu jarak dan arah antara antena
itu dengan pemancar stasiun televisi (transmitter), dan juga kekuatan pemancar
stasiun tersebut. Antena indoor biasanya kecil dan di design untuk diletakkan
diatas TV atau dekat TV. Antena indoor dapat dipengaruhi oleh gangguan-
gangguan antara lain dinding isolasi, bahan atap, pipa air, kabel listrik dan
bahkan orang-orang yang bergerak di sekitar ruangan. Alat- alat rumah tangga
juga dapat menyumbang gangguan tersebut seperti komputer, radio, lampu neon,
dan telepon cordless.Kemampuan sebuah antenna untuk menangkap signal dan mengirimnya ke tuner disebut dengan “Gain” (diukur dengan dB atau decibel). Semakin besar dB pada antena, semakin bagus juga ‘gain’nya. Ada istilah lainnya mengenai antena yaitu front-to-back-ratio, artinya berapa bagus sebuah antena dapat menerima signal yang datang dari arah antena itu menghadap dibandingkan yang datang dari arah yang berlawanan. Sebenarnya spesifikasi ini jarang ditulis atau ditampilkan pada kotak-kotak antena sewaktu anda membelinya atau dalam instruksi kertasnya, tapi jika ada anda hanya perlu tau makin besar angkanya semakin bagus.
View My Stats
